PERDATIN DIY

Perhimpunan Dokter Anestesiologi & Terapi Intensif Indonesia – Cabang DI Yogyakarta​

Ketika Sumpah Dokter Dibawa ke Tengah Perang:dr. Rinaldi Tri Frisianto, Sp.An-TI — 21 Hari Bertugas di Gaza

Di hari-hari terakhir Ramadhan 2025, seorang dokter anestesiologi dari Yogyakarta memilih meninggalkan kenyamanan rumah sakit dan menjawab panggilan yang lebih besar: merawat mereka yang telah dilupakan dunia.

dr. Rinaldi Tri Frisianto Sp.An-TI

MISI KEMANUSIAAN 📍 Gaza, Palestina 📅 27 Mar – 17 Apr 2025 🌙 Hari-hari terakhir Ramadhan 1445 H 🏥 RS Eropa & RS Nasser, Khan Younis 🧡 Tim pertama BSMI pasca 7 Okt 2023

“Tulisan ini semoga menjadi pengingat bahwa sebagai dokter kita terikat sumpah untuk menghargai kehidupan bahkan sejak konsepsi — sumpah yang seharusnya membuat dokter-dokter menjadi suara paling keras menentang kekejaman yang terjadi.”

— dr. Rinaldi Tri Frisianto, Sp.An-TI  ·  Catatan dari Gaza, April 2025

Ada dokter yang mendedikasikan hidupnya pada teknologi dan inovasi. Ada yang mencurahkannya pada pendidikan dan riset. Dan ada yang memilih pergi ke tempat di mana keduanya nyaris tidak berarti — tempat di mana yang dibutuhkan hanyalah sepasang tangan, sebuah stetoskop, dan keberanian yang tidak bisa diajarkan di bangku kuliah mana pun.

Rinaldi Tri Frisianto, Sp.An-TI — dokter anestesiologi anggota PERDATIN DIY — adalah dokter itu. Pada 27 Maret 2025, ia meninggalkan Yogyakarta dan terbang menuju Gaza, bergabung sebagai tim pertama Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) yang berhasil masuk ke wilayah konflik tersebut setelah pecahnya perang Taufan Al-Aqsha pada 7 Oktober 2023.

Selama 21 hari, hanya dengan izin masuk yang setiap saat bisa dicabut, diinterogasi di pos pemeriksaan bersenjata, dan bekerja di bawah suara ledakan yang berulang setiap 30 menit — ia tetap di sana. Bukan karena tugas semata, tetapi karena keyakinan bahwa sumpah dokter tidak memiliki klausa pengecualian untuk zona perang.

■ PERJALANAN PENUH RISIKO: SEBELUM SAMPAI DI GAZA

Tidak ada yang mudah dalam perjalanan ini, bahkan sebelum dr. Rinaldi menginjakkan kaki di Gaza. Blokade total yang diberlakukan membuat setiap langkah menuju wilayah tersebut penuh hambatan birokrasi dan intimidasi.

Dari 12 relawan internasional yang awalnya mendapat izin masuk, enam nama dihapus mendadak oleh otoritas Israel di malam sebelum keberangkatan — tanpa alasan. Seorang relawan asal Amerika yang baru mendarat di Amman terpaksa langsung kembali pulang. Setiap relawan dibatasi membawa uang tunai hanya USD 200 (setara Rp 3 juta).

Perjalanan dari perbatasan Yordania menuju Gaza — yang normalnya ditempuh 4,5 jam — memakan waktu 9 jam karena pos pemeriksaan berlapis. Saat pulang, perjalanan keluar bahkan mencapai 12 jam.

Yang paling membekas: ketika dr. Rinaldi diinterogasi di sebuah ruang sempit oleh tentara bersenjata. Alasannya absurd — dalam kopernya ditemukan syal dan beberapa bendera Palestina kecil sebagai oleh-oleh dari rekan dokter Gaza.

Bahkan relawan tidak diizinkan membawa bantuan apapun:

  ⚠️  Alat kesehatan termasuk USG disita di perbatasan

  ⚠️  Obat-obatan dilarang masuk

  ⚠️  Paket makanan untuk warga Gaza pun dilarang

  ⚠️  Relawan hanya boleh membawa perlengkapan pribadi

■ 21 HARI MENJADI SAKSI: APA YANG DILIHAT, DIDENGAR, DAN DIRASAKAN

💥  SERANGAN SETIAP SAAT

Rudal jatuh rata-rata setiap 30 menit hingga 1 jam. Drone pengintai meraung 24 jam penuh di atas langit Gaza. Langit-langit ruangan RS runtuh akibat getaran ledakan yang terasa begitu dekat.

🏥  RUMAH SAKIT TETAP BERDIRI

RS Eropa dan RS Nasser beroperasi di tengah kehancuran. Bekas lubang peluru di dinding. Koridor dipenuhi reruntuhan. Namun dokter-dokter Gaza tetap berdiri dan bertugas — bahkan saat kelaparan.

🦩  ANAK-ANAK YANG TERLUPAKAN

Separuh dari korban yang masuk UGD setiap harinya adalah anak-anak. Cedera kepala berat dan cedera tulang belakang — semua akibat ledakan rudal. Gambaran yang, dalam kata-katanya sendiri, tak mampu ia pahami logikanya.

Dokter yang Bertugas Sambil Diinfus

Ada satu cerita yang membuat dr. Rinaldi terdiam. Suatu hari, seorang residen bedah saraf tidak muncul di kamar operasi saat pasien sudah siap. Beberapa menit kemudian datang kabar: dokter itu pingsan dan sedang diinfus akibat dehidrasi dan kurang makan akibat blokade pangan.

Namun tak lama kemudian, sang residen bangkit, melepas infus, dan masuk kembali ke kamar operasi untuk memimpin jalannya operasi. “Ini dialami hampir semua nakes yang bertugas,” tulis dr. Rinaldi. Tenaga medis Gaza bekerja di ambang batas fisik mereka, sementara korban terus berdatangan setiap jam.

  “Saya pun sampai detik ini tidak paham apa yang menjadi pertimbangan menyerang korban-korban tersebut. Hampir setiap hari RS menerima korban serangan rudal yang separuhnya adalah anak-anak.”

  — dr. Rinaldi, dari catatannya di Gaza

■ LAPAR DAN KELELAHAN: TENAGA MEDIS DI TITIK TERBATAS

KONDISI STOK DARAH RS EROPA GAZA — APRIL 2025

Stok darah hanya tersisa untuk ±1 bulan ke depan jika eskalasi serangan tidak berkurang.

Warga Gaza sebenarnya antusias mendonor — namun mayoritas ditolak karena anemia masif akibat kelaparan.

Kelaparan bukan hanya dialami warga sipil. Selama 21 hari bertugas, dr. Rinaldi menyaksikan sendiri bagaimana rekannya, dr. Danny Erlangga — yang biasa rutin mendonor darah di Indonesia — ditolak saat hendak mendonor di RS Eropa Gaza karena kadar hemoglobinnya tidak memenuhi syarat. Efek dari kondisi makan yang sangat terbatas selama berada di Gaza.

Banyak pasien yang ia temui mengalami kurang berat badan dengan massa otot yang telah menciut, terutama anak-anak. Kotak-kotak bantuan berisi gandum terlihat berserakan di jalan Gaza — tak berani diambil oleh siapapun karena, menurut warga setempat, bantuan itu justru sengaja dibuang oleh pasukan pendudukan sebagai bagian dari pengepungan.

Yang juga meninggalkan kesan mendalam: menyaksikan dengan mata kepala sendiri, pada suatu Sabtu pagi, kapal perang Israel dari jarak sekitar 3 km mendekati perahu-perahu nelayan Gaza yang baru saja berlayar, lalu menembaki mereka. Beberapa menit kemudian, ambulans berdatangan.

Gerak dr. Rinaldi dan tim selama bertugas memang dibatasi hanya di lingkungan rumah sakit. Namun bahkan dari sana pun — dari koridor yang retak, bangsal yang bergetar, dan kamar operasi yang terus bekerja — sudah cukup untuk memahami bahwa apa yang terjadi di Gaza bukan hanya tragedi kemanusiaan biasa.

Di tengah kondisi yang sangat terbatas, tim medis dari berbagai negara bekerja bersama dokter-dokter Gaza yang tidak pernah benar-benar berhenti. dr. Rinaldi bertugas bersama dr. Danny Erlangga, Sp.BS dari RS Kota Banjar Jawa Barat — keduanya menjadi satu-satunya dua dokter Indonesia yang berhasil masuk ke Gaza saat itu melalui BSMI.

Di RS Eropa, mereka berkolaborasi dengan dr. Nidhal — kepala staf bedah saraf — dan seluruh kru kamar operasi yang bertugas dalam kondisi hampir tanpa logistik. Mahasiswa kedokteran dan koas melanjutkan kuliah mereka secara daring melalui koneksi internet di rumah sakit, karena seluruh kampus dan universitas di Gaza telah dihancurkan.

Bahwa di antara kehancuran itu masih ada ruang operasi yang berfungsi, ada dokter residen yang bangkit dari infusan untuk menyelesaikan operasinya, dan ada tim dari Indonesia yang memilih hadir di sana — adalah bukti bahwa kemanusiaan memiliki cara sendiri untuk bertahan.

■ PROFIL SINGKAT: DOKTER YANG TIDAK BERHENTI DI SATU TEMPAT

Pendidikan & Karier

▶  S1 FK UGM (2002–2008)

▶  Sp.An-TI FK UGM (2011–2016)

▶  Kepala IKO RS PKU Wonosari

▶  Kepala ICU RS DKT Dr. Soetarto Yogyakarta

▶  Ketua Tim Manajemen Nyeri RS DKT Dr. Soetarto

▶  Pengajar Universitas Aisyiah Yogyakarta (Prodi Penata Anestesi)

 

Penulisan & Karya

▶  Novel: “Sudut Sunyi Anestesi”

▶  Buku Ilmiah Populer: “ERACS, Sesar Jadi Lebih Nyaman”

▶  Laporan kasus: Anestesi pada berbagai kondisi kompleks

Pengabdian & Organisasi

▶  Relawan medis tim pertama BSMI ke Gaza (2025)

▶  CEO Sahabat Al-Aqsha (2021–2022)

▶  Ketua Yayasan Khidmat Indonesia untuk Tanah Amanah (2022–kini)

▶  Koordinator Sahabat Al-Aqsha for Rohingya (2017–2020)

▶  Tim medis relawan “Save Our Aceh” UGM (2004–2005)

▶  Tim medis Relawan Masjid – Gempa Padang (2006–2007)

▶  Yanmed BSMI Yogyakarta (2006–2008)

▶  Instruktur Code Blue, EWS, Manajemen Nyeri di RS

“Diam dan abainya kita terhadap kehidupan yang dinistakan, hakikatnya menjadi bagian dari kealpaan kita atas sumpah mulia kedokteran yang telah kita ikrarkan.”

— dr. Rinaldi Tri Frisianto, Sp.An-TI  ·  Anggota PERDATIN DIY  ·  Gaza, April 2025

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Right Menu Icon